Tak Banyak Buktikan Angka, Pengamat Hukum Tata Negara Prediksi Gugatan Ananda "Rontok"

hallobanua.com, Banjarmasin - Gugatan sengketa hasil pemilu (PHP Kada) Pilwali Banjarmasin yang dilayangkan Ananda-Mushaffa ke Mahkamah Konstitusin (MK) RI, diprediksi rontok,  alias tidak dapat dikabulkan,  karena tidak menitikberatkan pembuktian soal angka suara.

Hal tersebut disampaikan pengamat hukum tata negara Fakultas Hukum, Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Ahmad Fikri Hadin. 

Mengapa demikian? Menurut Fikri sesuai aturan dan belajar dari  pengalaman majelis hakim MK tetap akan memutus soal angka perolehan suara bukan terkait pelanggaran pada tahapan proses atau administrasi.

Berdasarkan jalannya persidangan di MK yang disaksikan Fikri, kubu Ananda-Mushaffa Zakir lebih banyak membeberkan pelanggaran proses administrasi. Ia menyebut jika terkait pelanggaran proses pencalonan merupakan kewenangan Bawaslu.

"Melihat dasar hukum yang ada pihak pemohon harus membuktikan berapa angka yang hilang. Misal suara yang hilang 1.000 maka itu harus dibuktikan. Kewenangan MK sesuai aturan terbatas. Dasar MK memutus perkara tetap berdasarkan angka karena mereka pengadil sengketa hasil," jelas Fikri, Rabu (3/3/21).

Dikatakannya, yang namanya hasil maka sifatnya kuantitatif urusan angka dan angka, sedangkan sengketa proses dan sengketa etik kewenangan lembaga lainnya seperti Bawaslu, PTUN, dan DKPP.

"Ranah MK hanya melihat hasil akhir atau angka kuantitatif. Walaupun misalnya pemohon mendalilkan secara kualitatif tapi harus dibuktikan secara kuantitatif apakah mempengaruhi suara. Jika tidak mempengaruhi suara belajar dari putusan yang sudah-sudah rata-rata MK menolak permohonan," bebernya.

Pada proses persidangan pembuktian di MK yang berlangsung Senin (1/3/21) tadi, pihak pemohon lebih banyak mendalilkan pelanggaran administrasi seperti dugaan politik uang, pelibatan oknum ASN, dan program kartu Baiman. Menurut Fikri hal tersebut menjadi ranah bawaslu sebagai lembaga ajudifikasi proses pemilihan. 

Dan, Fikri sedikit heran, permasalahan tersebut tidak banyak di bawa ke bawaslu, namun justru setelah perolehan suara diketahui baru dipermasalahkan. 

Pihak pemohon pada proses persidangan juga berusaha membuktikan pelanggaran di TPS 012 Murung Raya, Kecamatan Banjarmasin Selatan. 

Fikri menilai pada pembuktian dugaan pelanggaran tersebut pihak pemohon juga tidak menitikberatkan angka yang hilang, namun berusaha membuktikan pelanggaran terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) yang notabene pelanggaran proses dan menjadi ranah bawaslu.

Fikri mengakui , meskipun bukan kewenangan MK tetap berhak mendengarkan pembuktian, namun berdasarkan pengalaman jika demikian hampir tidak pernah ada gugatan yang dikabulkan.

"Jika pemohon meminta pemungutan suara ulang (PSU) harus dibuktikan dengan jumlah suara yang hilang berapa. Dibuktikan secara kuantitatif, boleh menggunakan metode kualitatif tapi ujungnya tetap harus soal mempengaurhi angka. Melihat persidangan gugatan Ananda-Mushaffa dan berdasarkan pengalaman yang ada MK kemungkinan besar menolak atau tidak menerimanya. Balik lagi batu ujian MK tetap soal ambang batas soal angka yang signifikan terkait hasil, bukan perselisihan proses. Sah-sah saja pemohonan mendalilkan kualitatif, hakim tidak menolak tapi balik lagi karena aturan soal angka atau selisih hasil kami tetap berpendapat akan ditolak," urainya.

Ditambahkahkanya, pada beberapa gugatan MK memang menerima permohonan, namun rata-rata putusan menolak atau dalam bahasa Belanda NO.

"Jika orang membaca aturan dari awal sudah bisa prediksi gugatan akan ditolak. Jika mau coba-coba mau menggunakan hak silahkan aja ajukan gugatan. Beberapa kali sidang MK walaupun ambang batas tidak terpenuhi kaya Pilwakot Banjarmasin, mk tetap aja pengen melihat dan menggali pembuktian dalil, sah-sah saja karena aturan tidak melarang itu. Perlu diketahui kebanyakan setelah digali soal mempengaruhi suara secara signifikan tidak terbukti. Pisau analisis MK tetap soal suara tetap kuantitatif, pembuktian harus terkolerasi dengan kuantitatif bukan kualitatif," tegasnya.

Tim Liputan/Yayan

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar

Install Hallobanua

Klik di sini!