Mahasiswa Menuntut Pemulihan Pasca Banjir & Usut Tuntas Ilegal Logging di HST

Lima orang mahasiswa menggelar mimbar bebas di Kota Barabai

hallobanua.com, Barabai - 5 (lima) orang mahasiswa yang menamakan diri Jaringan Mahasiswa Berdikari menggelar aksi unjuk rasa di kantor Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kota Barabai pada Kamis (01/04/21) kemarin.

Aksi massa itu  merespons bencana banjir bandang di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) yang mengakibatkan ribuan orang harus mengungsi serta ratusan rumah hilang, rusak, dan sejumlah infrastruktur publik rusak. 

Dari informasi di lapangan, sebelum mendatangi kantor bupati, massa berjalan kaki cukup jauh, dari STAI Al Washliyah menuju Tugu Lapangan Dwi Warna di Kota Barabai untuk menggelar mimbar bebas. 

Namun, aksi mimbar bebas tidak berlangsung lama, karena mereka didesak oleh pihak kepolisian setempat untuk langsung bergerak ke kantor bupati.

"Pihak keamanan mendesak kami untuk langsung ke kantor Bupati HST. Dan kami mencoba kooperatif saja,” kata Salah satu orator aksi, Arbani 

Dalam aksinya, massa menyuarakan dua tuntutan kepada Bupati HST periode 2021-2024. Pertama, massa mendesak Pemkab HST segera melakukan langkah pemulihan pasca banjir HST meliputi semua sektor terdampak, baik infrastruktur, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. 

Menurut pihaknya, massa aksi pemulihan pasca banjir parah itu semestinya menjadi agenda utama Pemkab HST agar kehidupan warga kembali normal. 

Selain itu mereka juga mendesak pihak kepolisian untuk mengusut tuntas persoalan ilegal logging di Kabupaten HST. 

Pasalnya, mereka menilai sebab banjir di HST bukan hanya karena curah hujan saja yang tinggi, akan tetapi juga karena berkurangnya tutupan lahan di Pegunungan Meratus yang diduga akibat penebangan pohon secara liar atau ilegal logging. 

Mahasiswa beraudiensi dengan Pemkab HST menuntut pemulihan pasca banjir

Setiba di lobi kantor Bupati HST, massa ingin membuka mimbar bebas lagi. Namun, kata Arbani, massa kembali didesak segera masuk ke dalam Kantor Bupati untuk beraudiensi. 

“Kami hanya diberi kesempatan mebacakan satu kali pernyataan sikap. Padahal kami ingin membuka mimbar bebas dulu di lobi kantor bupati. Harapan besar kami adalah, bupati bisa menemui kami sebagai rakyatnya secara langsung di luar dan duduk bersama berdiskusi,” imbuh Arbani. 

Walaupun sedikit kecewa, saat audiensi, karena didesak dari pihak aparat keamanan untuk beraudien di dalam ruangan, pihaknya pun terus kooperatif. Setelah itu, massa ditemui oleh Sekda HST karena Bupati HST tidak bisa berhadir karena ada agenda lain. 

“Sementara pak Wabup tidak bisa berhadir alasannya, kata pak Sekda karena ada agenda lain. Kami menyampaikan dua tuntutan itu,” terangnya. 

Lebih lanjut, Sekda HST menerima tuntutan mahasiswa. Namun, Arbani menyayangkan Sekda HST enggan menandatangani surat pernyataan dari mereka. 

“Alasannya ditakutkan nantinya ada salah penafsiran redaksi kata dalam pernyataan kami siap itu. Sebenarnya, kami hanya ingin ada bukti fisik bahwa beliau memang menerima tuntutan kami tersebut. Tapi sayangnya beliau tidak mau. Kami menyayangkan hal ini,” ucap Arbani. 

Kendati demikian, ke depan massa tetap mengawal tuntutan yang disampaikan, terutama yang berkaitan dengan pemulihan pasca banjir. 

"Apabila tidak ada perkemabngan di lapangan, maka tidak menutup kemungkinan mahasiswa akan menggelar aksi serupa dengan massa yang lebih banyak," pungkas Arbani. 

Rian Akhmad/ Yayan

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar