Kekerasan Perempuan dan Anak Meningkat, Kadis DP3A: Hapus Budaya Takut Melapor

Iwan Fitriadi, Kepala Dinas DP3A Kota Banjarmasin

hallobanua.com, Banjarmasin - Kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di Kota Banjarmasin terus mengalami peningkatan. 

Per Juli 2021 saja, sudah ada 55 laporan yang masuk ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Banjarmasin . 

"Jumlah ini kemungkinan besar akan terus bertambah. Karena di tahun 2020 kemarin pihaknya hanya menangani 77 kasus dalam setahun," ungkap Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Banjarmasin, Iwan Fitriadi belum lama tadi. 

Selain itu, Kasus yang ditangani pihaknya tidak hanya dalam bentuk kekerasan fisik saja, namun juga kekerasan seksual yang dialami perempuan dan anak. 

Ia menyebut, kondisi sekarang ini lumrah terjadi, baik di Banjarmasin maupun di daerah lain. Ditambah dengan keadaan yang serba sulit di masa pandemi saat ini. 

"Jika dibandingkan dengan masa pandemi sekarang dengan sebelum pandemi, kasus kekerasan terhadap anak di seluruh indonesia terus meningkat,"katanya. 

Lalu, apakah yang menyebabkan kondisi ini sampai terjadi? Iwan pun menyebutkan bahwa faktor ekonomi menjadi penyebab meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Banjarmasin. 

"Ya seperti yang sudah diketahui, banyak orangtua yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi. Jadi faktor ekonomi ini yang dijadikan alasan oleh sebagian besar kasus yang kita tangani," imbuhnya. 

Meski begitu, Iwan mengklaim bahwa pihaknya sudah menyelesaikan seluruh laporan yang masuk, yang secara umum diselesaikan secara kekeluargaan dan hukum pidana. 

"Kota tetap mengutamakan mediasi untuk penyelesaian. Tapi kalau tak bisa menemukan jalan keluar, otomatis kasusnya diambil alih penegak hukum," ungkapnya. 

Kemudian, Iwan juga mengaku ingin menghapus dua anggapan yang masih melekat kuat di masyarakat terkait kasus kekerasan perempuan dan anak ini.  

Yakni menghapus budaya enggan melapor jadi fokus P2TP2A saat ini. Karena tak dipungkiri masih banyak warga yang menganggap kasus kekerasan adalah sebuah aib keluarga. 

Selain itu pihaknya juga ingin menghilangkan pola berpikir yang tak ingin mencampuri urusan orang lain ketika terjadi kekerasan. 

"Misalnya ada tetangga yang sering memukul anaknya, tapi kita tidak ada rasa peduli karena dipandang sebagai aib keluarga. Itu anggapan yang harus kita hapus," tukasnya. 

Iwan berharap pandemi kali ini membuat perayaan Hari Anak Nasional lebih bermakna bagi setiap keluarga. Karena, semakin sering berkumpul di rumah karena ada pembatasan kegiatan, semakin paham dengan kebutuhan keluarga. Terutama anak. 

"Untuk anak-anak kita harap jangan sampai lemah karena ada pembatasan untuk pembelajaran di sekolah, mereka harus tetap riang walaupun hanya bisa belajar di rumah," harapnya. 

rian akhmad/ may

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar

Install Hallobanua

Klik di sini!