Walhi Kalsel Warning Bahaya Bencana Lingkungan, Salah Satunya Ditengarai Aktivitas Pertambangan Masif

hallobanua.com, Banjarmasin -  Bencana Lingkungan kini mengancam jiwa warga, akibat pergeseran tanah di lingkar tambang, Desa Sawang, Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. 

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel telah menyampaikan tentang bahaya yang setiap saat mengancam warga akibat bencana lingkungan tersebut. 

Sebab, nampak telah terjadi pergeseran tanah di lingkar tambang di Desa Sawang sejak 15 sampai 18 Juli 2021 lalu. 

Direktur Eksekutif Walhi Kalsel Kisworo Dwi Cahyono mengatakan, tragedi, ini mirip sekali dengan likuifaksi yang terjadi di Sulawesi Tengah pada Tahun 2018 lalu. Ironisnya tragedi ini terjadi di lahan pertanian dan perikanan produktif milik rakyat. 

Menurut, Kisworo, di sebelah selatan dan timur lokasi kejadian, sangat terlihat perubahan bentang alam yang diakibatkan aktivitas ekstraktif pertambangan batu bara. 

Selain itu berdasarkan pemantauan lapangan, Walhi Kalsel, ada aktivitas menarik di balik bencana ekologis yang terjadi di Tapin. 

Walhi Kalsel, kata Kisworo, menemukan masih beroperasinya eksplorasi tambang batu bara di sekitar wilayah kejadian bencana tersebut. 

Walhi juga mendapatkan informasi setidaknya ada sekitar tujuh petak kolam ikan warga yang terdampak kejadian ini. 

"Di lokasi kejadian, tanah yang bergeser naik ke permukaan diperkirakan dengan ketinggian 1-5 meter, sehingga menyebabkan lahan pertanian rakyat menjadi rusak parah," tegasnya. 

Direktur Walhi Kalsel ini juga mengungkapkan, bahwa bukan hanya kolam ikan, tetapi ada juga beberapa petak sawah yang terdampak bencana ekologis ini. 

Tim lapangan Walhi Kalsel menduga ada pengaruh signifikan aktivitas pertambangan masif yang turut menyumbang perubahan karakter dan topografi tanah. 

"Telah terjadi tekanan yang diakibatkan oleh timbunan tanah dari aktivitas tambang batu bara," terangnya. 

Sedangkan luas lahan terdampak berdasarkan analisa spasial sementara berupa persawahan seluas 6,11 Ha dan kolam ikan seluas 6,65 Ha. Lokasi tersebut berada di sekitar koordinat yang diambil Walhi Kalsel yaitu pada 115.170583° BT, -3.007444° LS dan 115.170778° BT, -3.00775° LS. 

Secara faktual, tambah Kisworo, kejadian ini harusnya menjadi tamparan bagi pemilik usaha agar mengevaluasi kinerjanya terutama memperhatikan dampak terhadap lingkungan. Pemangku kebijakan seperti Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Provinsi harusnya juga segera melakukan evaluasi dan audit perizinan di Kalsel. 

"Jangan sampai pelaku usaha dan Pemerintah menggali kubur rakyatnya sendiri demi investasi," tandasnya. 

Terhadap petani dan petambak ikan dan warga, seharusnya bukan hanya memberikan sejenis stimulan atau mengganti kerugian, tetapi lebih dari itu dari hulu ke hilir. 

Kisworo menyatakan, upaya evaluasi perizinan harus segera dilakukan oleh pemberi izin baik bupati, gubernur, atau menteri. Bahkan jika ditemukan unsur pidana dan perdata Pemerintah wajib melakukan penegakan hukum terhadap pelaku usaha industri tambang batu bara yang nakal. 

Dky/may

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar

Install Hallobanua

Klik di sini!