DPPKBPM Kerahkan 6000 Kader Atasi Stunting di Banjarmasin

Kepala DPPKBPM Kota Banjarmasin Madyan
 
hallobanua.com, Banjarmasin - Tingginya angka stunting atau tumbuh pendek akibat kekurangan gizi akut Indonesia menjadi perhatian serius Presiden RI Joko Widodo. 

Melalui pemerintah daerah, Jokowi mengamanahkan upaya penurunan angka stunting minimal 14 persen pada tahun 2024. 

Menindaklanjuti hal tersebut, Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Masyarakat (DPPKBPM) Kota Banjarmasin mengerahkan 6000 lebih kader pendamping keluarga atau Kader Pembangunan Manusia (KPM) untuk menurunkan angka stunting.  
"Setidaknya 6000 Kader Pembangunan Manusia (KPM) di Banjarmasin dikerahkan untuk mengatasi masalah stunting di Banjarmasin, "tutur Kepala DPPKBPM Kota Banjarmasin, Madyan, di Banjarmasin. 

Madyan membeberkan, penanganan penurunan angka stunting di Banjarmasin menjadi program prioritas yang dilakukan dinasnya, selain masalah peningkatan kualitas keluarga (KB). 

" Kami kejar apa yang ditargetkan pa Presiden Jokowi bahwa percepatan stunting bisa turun hingga 14 persen pada 2024 nanti, "ujar Madyan. 

Ia menjelaskan, atas amanah tersebut, pihaknya menggerakkan ribuan kader KPM tersebut yang tersebar di 52 kelurahan untuk  mengawasi, mengedukasi dan sosialisasi pentingnya pencegahan stunting sejak dini. 

"Persentase stunting Kota Banjarmasin berkisar 25 persen. Dari angka tersebut jadinya tetap ada yang terindikasi stunting misalnya dari 10 anak lahir, 3 diantaranya terindikasi tunting, "jelas Madyan. 

Fokus dari program ini, pihaknya melakukan pendampingan terhadap keluarga di Indonesia. Di Banjarmasin, program dibantu dengan Tim Pendamping Keluarga (TPK) bergerak ke seluruh kecamatan. 

Tugas mereka memberikan edukasi terkait pentingnya pencegahan stunting sejak dini dan upaya pencegahannya. 

"Pengawasan oleh TPK mulai dari pra perkawinan agar menjaga kesehatan sebelum merencanakan kehamilan, sebab anemia pada ibu hamil pun bisa menyebabkan stunting, "jelasnya. 

Di Banjarmasin, tiga kelurahan tertinggi terindikasi stunting yakni Tiga kelurahan tersebut memiliki persentase tertinggi di Banjarmasin Timur pada 2020. 

Tertinggi pertama  Kelurahan Sungai Lulut  20,59 persen, Kelurahan Sungai Bilu sebesar 16.46 dan Kelurahan Karang Mekar sebesar 15,81 persen. 

Ketua Ikatan Penyuluh KB Banjarmasin, Ramdhani mengungkapkan faktor adanya  stunting tersebut umumnya kekurangan asupan gizi anak akut. 

"Kesibukan orang tua bisa juga menjadi penyebab anak tidak terperhatikan lagi gizi dan makanannya sehingga makan siap saji seperti mie instan dan ayam tepung, "tuturnya. 

Ditambahkan Koordinator KB Banjarmasin Barat, Idrus mengungkapkan, khusus di Banjarmasin Barat stunting terjadi karena kurangnya pengetahuan tentang gizi serta faktor ekonomi. 

"Kelurahan Basirih cukup banyak indikasi stuntingnya, yakni 40 anak pada 2019, kemudian 2020 Masih kelurahan Basirih serta Kuin Cerucuk,"katanya. 

Dya/ may
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar