hallobanua.com, BANJAR – Kondisi banjir yang tak kunjung surut di wilayah Kabupaten Banjar memaksa ratusan warga Desa Sungai Tabuk, Kecamatan Sungai Tabuk, untuk meninggalkan rumah mereka dan bertahan di posko pengungsian.
Salah satu titik pengungsian terpusat kini menempati bangunan eks-Puskesmas di Desa Sungai Tabuk, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar.
Salasiah, salah seorang warga desa yang ditemui di posko, mengungkapkan bahwa dirinya sudah mengungsi selama lima hari.
Ia terpaksa mengungsi karena ketinggian air di dalam rumahnya sudah mencapai pinggang orang dewasa dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan surut.
"Sudah lima hari saya di sini (pengungsian) karena banjir di rumah tak kunjung surut, tingginya sampai sepinggang," ungkap Salasiah dibincangi hallobanua.com, Sabtu (03/01/2025).
Pekerja Sosial Direktorat Kemensos RI, Simon Sinaga, menjelaskan bahwa jumlah warga yang bertahan di posko eks-Puskesmas cukup besar, didominasi oleh kelompok rentan.
"Pengungsi yang terpusat di ex-Puskesmas di sini ada 79 KK, 218 jiwa, yang terdiri dari kebanyakan ibu-ibu dan anak-anak," ujar Simon.
Ia menambahkan bahwa data ini masih bersifat dinamis karena sebagian warga sering kembali ke rumah pada siang hari dan baru kembali ke posko saat malam tiba.
Untuk memenuhi kebutuhan logistik, Kementerian Sosial bersama Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan dan Kabupaten Banjar telah mendirikan dapur umum.
"Produksinya per hari itu 5.000 bungkus untuk dua kali makan," jelas Simon.
Menanggapi kebutuhan mendesak para pengungsi, Kemensos telah mendistribusikan berbagai perlengkapan dasar.
Simon merincikan bantuan berupa kasur, selimut, terpal, hingga paket khusus seperti Family Kit dan Kidswear.
"Untuk ibu-ibu dan dewasa, kami ada Family Kit yang isinya berupa sabun, handuk, serta pakaian dalam pria dan wanita. Sedangkan untuk kelompok rentan seperti bayi dan anak-anak, kami membawa Kidswear yang berisi minyak telon, popok, bedak, dan perlengkapan dasar lainnya," terangnya.
Terkait permintaan susu bayi spesifik, Simon menjelaskan bahwa pihak Kemensos hanya menyediakan susu umum guna menghindari risiko alergi pada bayi, karena pengadaan susu spesifik merupakan ranah Kementerian Kesehatan.
Penulis : rian akhmad
Kalsel
