hallobanua com, BANJARMASIN – Pemerintah Kota Banjarmasin kini tengah berpacu dengan waktu untuk memulihkan fungsi sungai yang kian menyempit.
Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin HR, menegaskan bahwa pembersihan, pengerukan, hingga normalisasi sungai kini menjadi prioritas utama demi mengembalikan kapasitas tampung air di wilayah perkotaan.
Penyempitan aliran air menjadi fokus utama perhatian pemerintah. Wali Kota menargetkan intensitas pengerukan akan terus ditingkatkan hingga September mendatang, mengingat tumpukan sedimen dan penyempitan fisik sungai tidak bisa ditangani secara instan.
"Kita sudah melaksanakan pembersihan dan pengerukan di beberapa titik. Kegiatan ini tidak boleh berhenti di sini saja karena kita tidak bisa menyelesaikan masalah sungai hanya dalam satu hari," ujar Yamin saat meninjau sungai di kawasan Tatah Belayung, Selasa (20/01/2026).
Masalah utama yang dihadapi Banjarmasin saat ini bukan hanya pendangkalan, melainkan hilangnya akses air akibat alih fungsi lahan.
Banyak anak sungai dan kanal yang kini "menghilang" karena tertutup bangunan atau infrastruktur lainnya.
Yamin pun telah menginstruksikan jajarannya untuk melakukan penyisiran total guna menemukan kembali kanal-kanal yang tersumbat tersebut.
"Saya menginginkan sampai bulan September nanti terus dilakukan pembersihan. Kalau perlu, cari dan temukan anak-anak sungai atau kanal yang masih tertutup. Kita ingin ke depan tidak ada lagi genangan yang terlalu tinggi," tegasnya.
Sebagai daerah hilir, Banjarmasin memiliki beban berat karena harus menampung debit air kiriman dari daerah tetangga.
Yamin menekankan bahwa ketika sungai menyempit, maka otomatis daya tampung kota terhadap air kiriman akan hilang, yang berujung pada luapan ke pemukiman.
Ia menggunakan analogi "tamu dan ruangan" untuk menggambarkan betapa kritisnya masalah penyempitan ruang air ini.
"Kita harus siapkan tempatnya. Kalau tamunya (air) sedikit, ruangnya sedikit tidak apa-apa. Tapi kalau tamunya banyak sementara ruangnya sempit, maka air itu akan berjalan ke mana-mana (meluap). Jadi kita harus perdalam sungai untuk menyiapkan wadah bagi air yang datang tersebut," jelas Yamin.
Upaya fisik berupa pengerukan di perbatasan, seperti wilayah Sungai Lulut yang berbatasan dengan Kabupaten Banjar, terus diupayakan melalui kolaborasi lintas wilayah.
Namun, Pemko mengingatkan bahwa normalisasi tidak akan maksimal tanpa dukungan masyarakat.
Masyarakat diajak untuk menyadari bahwa setiap jengkal penyempitan sungai akibat sampah atau bangunan liar akan berdampak langsung pada risiko banjir.
Penulis : rian akhmad
Kota Bjm
Tags
Pemko Banjarmasin
