Sambangi Home ISFO, Mahasiswa UIN Antasari Serap Ilmu Kepemimpinan dan Budaya dari Ibnu Sina

hallobanua.com, BANJARMASIN – Sebanyak 20 mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Antasari Banjarmasin melakukan kunjungan edukatif ke Homebase Ibnu Sina Foundation (ISFO), Kamis (14/05/2026).

Kehadiran mahasiswa dari Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) ini bertujuan untuk berdiskusi langsung dengan Presiden ISFO yang juga tokoh pemimpin daerah, H Ibnu Sina.

Pertemuan yang berlangsung hangat selama hampir dua setengah jam tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membedah isu-isu sosial dan keagamaan dari perspektif praktisi.

Dosen pendamping sekaligus pengajar Prodi BPI UIN Antasari, Willy Ramadan, mengungkapkan bahwa kunjungan ini merupakan langkah nyata agar mahasiswa tidak hanya terpaku pada teori di dalam kelas. 

Menurutnya, pengalaman H Ibnu Sina dalam memimpin kota dan berbagai organisasi menjadi substansi berharga yang perlu diserap.

"Mahasiswa ini berasal dari jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam, di mana ada ranah penyuluhan sosial dan agama. Kami ingin mereka punya kerangka berpikir yang kuat berdasarkan pengalaman Pak Ibnu. Mereka bisa belajar bagaimana memahami karakteristik orang Banjar dan cara menangani problem sosial di masyarakat," ujar Willy.

Willy menambahkan, diskusi ini adalah kesempatan emas bagi mahasiswa untuk menyelaraskan antara teori akademis dengan realitas di lapangan. 

"Apa yang didapat hari ini diharapkan bisa saling melengkapi dan menguatkan teori-teori yang sudah dipelajari di bangku kuliah," imbuhnya.

Sementara itu, Presiden ISFO, H Ibnu Sina, menyambut baik antusiasme para mahasiswa. 

Dalam pemaparannya, ia memberikan pengantar mendalam mengenai sejarah etnis Banjar, budaya sungai, hingga transisi ketokohan di Kalimantan Selatan.

"Kita berdiskusi cukup lapang tadi. Saya sampaikan bagaimana Islam masuk dan berinteraksi dengan budaya lokal. Ada hal menarik saat mahasiswa bertanya apakah tradisi mistis itu modal atau penghambat pembangunan. Saya jelaskan bahwa dalam kearifan lokal kita, ada istilah 'Pamali' yang sebenarnya berfungsi sebagai kontrol sosial atau pelarangan berbasis kearifan lokal, seperti larangan membuang sampah ke sungai," papar Ibnu Sina.

Ia juga membedah aspek sosiologi-antropologi masyarakat Banjar yang terbentuk dari akar Suku Dayak dan Melayu, serta sejarah panjang dari masa Nansarunai hingga terbentuknya Banjarmasin pada 1526. 

Kepada mahasiswa UIN, ia berpesan agar mampu memfilter tradisi mana yang sejalan dengan tuntunan agama dan mana yang harus ditinggalkan.

Di akhir sesi, Ibnu Sina memberikan tiga pesan kunci bagi mahasiswa agar sukses di masa depan. Mulai dari menguasai bahasa asing, baik itu Bahasa Inggris, Arab, Mandarin, atau bahasa internasional lainnya.

Kemudian yakni memiliki kompetensi (Skill). Mahasiswa harus aktif mengikuti pelatihan, diklat, dan mengasah kemampuan berorganisasi maupun negosiasi.

Dan yang terakhir yakni menjaga adab dan Kejujuran. Pasalnya nilai-nilai dasar seperti sopan santun dan integritas adalah modal utama yang dilihat oleh siapapun dalam dunia profesional.

"Seorang pimpinan pasti akan memilih orang yang punya kompetensi dan bisa dipercaya karena kejujurannya. Manfaatkan masa mahasiswa untuk memiliki ketiga hal ini," pungkasnya.


Penulis : rian akhmad
Kota bjm
Baca Juga

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
Hallobanua

Follow Instagram Kami Juga Ya