Teror ‘The Bell: Panggilan untuk Mati’ Sapa Banjarmasin


hallobanua.com, BANJARMASIN, – Demam film horor The Bell: Panggilan untuk Mati resmi menyambangi Banjarmasin.

Setelah sukses meraih lebih dari 84.000 penonton di seluruh Indonesia, jajaran pemain dan kru menggelar cinema visit untuk menyapa langsung penggemar di Kota Seribu Sungai pada Selasa (12/06/2026).

Kehadiran aktor Bhisma Mulia, Sita Permatasari, serta Eksekutif Produser Avesina Soebli menjadi daya tarik utama dalam kunjungan ini. 

Film garapan sutradara Jay Sukmo ini menarik perhatian publik karena mengangkat sosok "Penebok", hantu baru dari folklore lokal, dengan balutan isu viralitas media sosial yang relevan bagi generasi muda.

Bhisma Mulia mengaku terkesan dengan antusiasme penonton yang merasa terhanyut oleh suasana mencekam dalam film tersebut.

"Banyak yang bilang mereka datang karena penasaran, tapi setelah nonton justru kebawa sama atmosfer filmnya. Itu yang menurut saya menarik dari The Bell, karena rasa takutnya bukan cuma dari apa yang muncul di layar, tapi juga dari situasi yang terasa dekat dengan kehidupan sekarang," ujar Bhisma.

Senada dengan Bhisma, Sita Permatasari menekankan bahwa pengalaman menonton film ini akan jauh lebih maksimal jika disaksikan di layar lebar.

"Film ini punya atmosfer yang kuat dan perlahan bikin penonton masuk ke dalam ceritanya. Menurut saya, sensasi itu akan lebih terasa kalau ditonton langsung di layar lebar bersama teman, sodara dan orang yang kalian sayang," ungkap Sita.

Selain cerita yang kuat, The Bell juga menawarkan inovasi visual dengan penggunaan tiga rasio gambar berbeda untuk menunjukkan periode waktu yang berbeda, memberikan pengalaman sinematik yang imersif.

Sementara itu, Eksekutif Produser, Avesina Soebli, berharap kehadiran mereka di Banjarmasin semakin meningkatkan minat masyarakat untuk mengenal mitos lokal melalui film ini.

"Kami ingin penonton merasakan pengalaman horor yang bukan hanya menegangkan, tetapi juga memiliki cerita dan atmosfer yang kuat. The Bell menghadirkan folklore lokal yang dekat dengan budaya kita sendiri, sehingga pengalaman menontonnya terasa lebih dekat, intens, dan berbeda," pungkasnya.


Penulis : rian akhmad
Kota Bjm
Baca Juga

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
Hallobanua

Follow Instagram Kami Juga Ya