Komunitas Kampanyekan Pilah Sampah Sasar ke Sekolah

hallobanua.com, BANJARMASIN - Berawal dari keresahan sejumlah aktivis lingkungan mengenai persoalan sampah di Banjarmasin, Komunitas Pilah Sampah Banjarmasin, hadir untuk memperluas program edukasinya ke delapan sekolah di Kota Banjarmasin. 

Gerakan yang dimulai pada 2021 itu telah membentuk kebiasaan memilah sampah di kalangan pelajar melalui pendampingan dan praktik langsung di sekolah.

Temuan itu terungkap dalam penelitian mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) yang meneliti strategi komunikasi Komunitas Pilah Sampah Banjarmasin. 

Wakil Ketua Komunitas Pilah Sampah Banjarmasin, Ady Marsha Maulana, mengatakan ide membentuk komunitas tersebut muncul setelah para aktivis melihat belum adanya gerakan serupa yang fokus pada edukasi lingkungan di Banjarmasin.

"Itu awalnya dari beberapa aktivis lingkungan. Pembina kami, Bang Reza, melihat di luar kota sudah banyak komunitas yang bergerak di bidang lingkungan. Akhirnya muncul ide, kenapa tidak membuat komunitas seperti itu di Banjarmasin," kata Ady, Jumat (12/06/2026).

Program pertama kali dijalankan di SMK Negeri 2 Banjarmasin. Saat itu, pemilahan sampah masih dilakukan secara sederhana menggunakan kardus yang dilapisi plastik untuk memisahkan jenis sampah. 

Dari sekolah tersebut, komunitas mulai mengembangkan berbagai inovasi, salah satunya yakni program beasiswa sampah yang memanfaatkan hasil penjualan botol plastik untuk membantu kebutuhan siswa.

"Beasiswa sampah itu cukup membantu untuk membeli buku dan keperluan lainnya karena pasokan botol dari sekolah cukup tinggi," ujarnya.

Gerakan tersebut kemudian berkembang ke sekolah lain hingga penggunaan keranjang khusus pilah sampah di SMA Negeri 7 Banjarmasin.

Keranjang pilah sampah kemudian ditempatkan di sejumlah sekolah, di antaranya SMA Negeri 2, SMA Negeri 3, SMA Negeri 4, SMA Negeri 6, SMA Negeri 10, serta SMK Frater Don Bosco.

Hingga kini, Komunitas Pilah Sampah Banjarmasin telah menjangkau delapan sekolah di Kota Banjarmasin.

Sekitar 90 persen sekolah dampingan tersebut telah menerapkan pemilahan sampah secara konsisten setiap hari.

"Belum 100 persen karena terkendala jumlah keranjang. Saat ini satu keranjang digunakan untuk dua kelas," ujarnya.

Beberapa kendala yang masih dihadapi diantaranya,  terbatasnya jumlah keranjang pilah sampah yang menyebabkan belum semua kelas bisa difasilitasi. 

Dan minimnya tempat pembuangan sementara (TPS) terpilah dan sistem pengangkutan sampah yang masih bercampur. 

Program edukasi pilah sampah saat ini masih berfokus pada siswa SMA saja. 

Ke depannya, edukasi serupa perlu diperluas hingga jenjang SD dan SMP agar kesadaran memilah sampah dapat dibentuk sejak usia dini.

Penulis : rian akhmad
Kota bjm
Baca Juga

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
Hallobanua

Follow Instagram Kami Juga Ya