hallobanua.com, BANJARMASIN – Musim kemarau yang mulai melanda Kota Banjarmasin memicu terjadinya intrusi air laut ke area sungai yang menjadi sumber air baku.
Saat ini, kadar garam (salinitas) akibat intrusi tersebut dilaporkan telah mencapai angka sekitar 15 mg/liter pada saat kondisi air pasang.
Direktur Utama PAM Bandarmasih, Zulbadi, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengantongi informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi kemarau panjang tahun ini.
Menghadapi tantangan alam tersebut, PAM Bandarmasih memastikan telah menerapkan sistem manajemen risiko yang teridentifikasi secara matang.
"Semua risiko yang bakal terjadi sudah teridentifikasi dan ada Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk setiap kegiatannya. Salah satunya, kami rutin melakukan pengurasan mulut intake di setiap stasiun pengambilan air baku," ujar Zulbadi, Jumat (17/06/2026).
Pengurasan tersebut dilakukan di beberapa titik krusial, seperti Intake Sungai Tabuk dan Intake Sungai Bilu, khususnya pada saat air sedang surut di malam hari hingga menjelang pagi (sekitar pukul 01.00 WITA).
Selain pengurasan, pemeliharaan juga menyasar pada sistem mekanikal perpompaan dan kelistrikan guna menjamin proses pengambilan air baku berjalan tanpa kendala teknis.
Zulbadi memetakan bahwa wilayah yang paling rawan terdampak intrusi air asin adalah wilayah Intake Sungai Bilu karena letak geografisnya yang lebih dekat dengan muara laut.
Guna menyiasati hal ini, PAM Bandarmasih menyiapkan skema mitigasi khusus berupa pencampuran (mixing) air baku. Langkah ini diambil karena keterbatasan infrastruktur pengolahan yang ada saat ini.
"Perlu diketahui, instalasi pengolahan kami didesain dan digunakan untuk mengolah air tawar menjadi air bersih, bukan mengolah air asin menjadi air tawar. Karena itu, yang kami lakukan adalah mencampur air baku dari IPA 1 dan IPA 2 agar tetap memenuhi batas parameter yang ditetapkan dan bisa didistribusikan ke masyarakat," jelas Zulbadi.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Operasional PAM Bandarmasih, Irwan Firmana, menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan langkah antisipasi nyata untuk menjaga pelayanan kepada masyarakat.
Antisipasi tersebut meliputi maksimalisasi pompa dan sistem perpipaan. Bahkan, uji coba infrastruktur telah mulai dilakukan.
"Kita telah mempersiapkan risiko besar jika kadar garam mencapai 250 ppm lebih. Hari ini kita mulai uji coba air baku dari Sungai Tabuk dipompa ke sini, sekaligus menguji perpipaan dan pompanya," ucap Irwan.
Irwan Firmana menambahkan detail teknis mengenai acuan parameter kelayakan konsumsi ini. Merujuk pada standar Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kandungan garam dinyatakan berbahaya atau tidak layak konsumsi bila kadar garam/klorida sudah melampaui 250 hingga 300 ppm (atau nilai Klorida 200 mg/L sebagai indikator awal).
"Jika kadar telah melampaui ambang batas tersebut, air terasa asin dan tidak layak minum serta berbahaya bagi infrastruktur perpipaan," terang Irwan.
Kendati saat ini masih aman, situasi di lapangan sangat bergantung pada faktor cuaca. Jika wilayah hulu maupun Banjarmasin tidak diguyur hujan, debit sungai akan terus menurun, yang otomatis mempercepat laju kandungan garam masuk ke hulu sungai.
Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, PAM Bandarmasih terus berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan II dan pengelola saluran irigasi terkait pengaturan pintu air di wilayah Bakula.
Penulis : rian akhmad
Kota bjm
