hallobanua.com, BANJARMASIN — Perhelatan akbar perayaan sinema Kalimantan Selatan, Layar Film Banjar (LFB) 2026, yang diselenggarakan selama tiga hari, mulai Jumat (14/8/2026) hingga Minggu (16/8/2026), resmi berakhir.
Bertempat di UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan, kegiatan yang mengusung tema "Salawasnya" ini menghadirkan ruang apresiasi, kreasi, dan eksibisi sinema lokal yang ramah inklusivitas serta berdaya saing tinggi.
Direktur Festival Layar Film Banjar 2026, Munir Shadikin, memaparkan makna mendalam di balik tema yang diusung tahun ini.
"Tema 'Salawasnya' adalah sebuah semangat untuk menciptakan ruang apresiasi, kreasi, dan eksibisi sinema lokal yang seluas-luasnya, yang akan terus hidup dan berdampak di Kalimantan Selatan," ujar Munir Shadikin, Rabu (19/08/2026).
Malam pembukaan turut dimeriahkan oleh program Layar Kanas Anum, yang menayangkan tiga film pendek karya pelajar SMA/SMK, yakni Serbuk Harapan produksi SMA 1 Gambut, Untukmu Dariku produksi SMK 3 Muhammadiyah Banjarmasin, dan Tampulu Masih Ada produksi SMK 2 Banjarmasin.
Acara dilanjutkan dengan sesi talkshow Bakesahan Sinema bersama sutradara dan penulis naskah Johansyah Jumberan (Mas Jo) serta aktris Banua Acil Imas.
Acil Imas menceritakan awal kariernya yang tak terduga usai terpilih melalui proses casting program Termehek-mehek, sementara Mas Jo membagikan kisahnya memupuk cita-cita sebagai penulis naskah sejak tinggal di Nagara. Keduanya pun berpesan kepada para pelajar untuk berani menentukan arah dan masa depan karier sejak dini.
"Penting bagi para pemuda untuk memiliki keberanian menentukan visi masa depan sejak dini, agar mantap memutuskan jalan karier mulai dari sekarang, entah menjadi filmmaker profesional atau profesi apa pun dengan tekad yang utuh," pesan Mas Jo dan Acil Imas.
Puncak festival pada Minggu (16/8/2026) diawali dengan sesi Lokakarya LFB 2026. Lebih dari 100 peserta mempresentasikan pitch deck berisi gagasan yang mengangkat kekayaan budaya, isu sosial, hingga cerita personal masyarakat Kalimantan Selatan.
Para mentor mengapresiasi keunikan ide-ide tersebut dan menilai model pendampingan intensif ini sebagai langkah penting dalam regenerasi sineas Banua.
Antusiasme pengunjung memuncak pada penayangan enam film pendek lokal, yakni Ampar-ampar Pisang, Dibalik Tajau, Diet, Rencana Bekawinan, Jangan Hilang, dan film dokumenter Maragap Humbayang.
Film dokumenter Maragap Humbayang, yang sebelumnya masuk Official Selection FFD 2025, sukses menguras air mata audiens. Film tersebut menceritakan kisah Bakti yang pulang ke Balangan pada 1445 H untuk menemui kakeknya, namun berujung pilu karena sang kakek telah berpulang sebelum ia tiba.
Penulis: Rian Akhmad
Kota Bjm
