hallobanua.com, BANJARMASIN — Memasuki hari ke-14 pada Sabtu (26/09/2026) ini, operasi SAR tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di Perairan Laut Jawa terus dilakukan.
Perjuangan tim evakuasi tidak hanya berpacu dengan waktu, tetapi juga mempertaruhkan keselamatan jiwa di dasar laut.
Sebanyak 45 penyelam handal gabungan Satkopaska, Dislambair TNI Angkatan Laut dan Basarnas Special group
bertaruh nyawa menghadapi serangkaian rintangan ekstrem demi mengevakuasi para korban.
Danlanal Banjarmasin, Kolonel Laut (P) Galih Nurna Putra, S.H., M.Tr.Opsla., mengungkapkan bahwa lingkungan bawah laut di lokasi kejadian memberikan tekanan fisik dan mental yang luar biasa bagi para prajurit.
"Penyelam kita sudah bekerja hampir dua minggu di kedalaman. Kedalaman laut, tekanan air yang sangat berpengaruh, arus bawah laut yang sangat keras, hingga kondisi kontaminasi dari jenazah korban menjadi tantangan utama," ujar Kolonel Galih di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Sabtu (26/09/2026).
Keselamatan para personel menjadi perhatian utama TNI AL agar misi kemanusiaan yang didukung tiga kapal perang (KRI Spica, KRI I Gusti Ngurah Rai, dan KRI Sultan Iskandar Muda) ini tidak memakan korban tambahan.
"Kita tidak mau orang-orang yang berniat menolong justru menjadi korban dalam operasi SAR ini," tegasnya.
Secara teknis dan medis, terdapat tiga ancaman fatal yang mengintai para penyelam selama menjalankan misi evakuasi di dasar Laut Jawa. Mulai dari Arus Bawah Laut yang Deras dan Tekanan Hidrostatis.
"Semakin dalam posisi bangkai kapal, semakin kuat tekanan air yang menghantam tubuh penyelam. Dikombinasikan dengan arus bawah laut yang keras, para penyelam membutuhkan daya tahan fisik ekstra hanya untuk bertahan di posisinya saat membongkar material kapal atau mengevakuasi jenazah," jelasnya.
Sementara itu, Ahli Hiperbarik Lakesla TNI AL, Mayor Laut (K) dr. Dony Irawan, membeberkan ancaman fatal lainnya yakni penyakit dekompresi (Decompression Sickness).
Penyelaman berulang di kedalaman ekstrem selama dua minggu berturut-turut memicu akumulasi gelembung gas nitrogen di dalam aliran darah yang tidak dapat larut.
"Dampak ringan sampai sedang yaitu munculnya ruam kemerahan pada kulit hingga nyeri sendi yang sangat hebat. kemudian dampak berat seperti kerusakan sistem saraf pusat yang dapat berujung pada kelumpuhan permanen," jelas dr. Dony Irawan.
Tak hanya itu, kontaminasi biologis dan bakteri menular dari kondisi jenazah yang telah lama berada di dalam air juga memicu paparan mikroorganisme dan bakteri pembusukan.
Prosedur ketat diberlakukan begitu penyelam naik ke permukaan, mereka wajib menjalani dekontaminasi dengan disemprot dan dicuci air bersih untuk membunuh bakteri yang menempel pada baju serta perlengkapan selam.
Untuk memitigasi risiko cedera permanen akibat tekanan ekstrem, TNI AL mendatangkan peralatan chamber (ruang udara bertekanan tinggi) portable dari Lembaga Kesehatan Kelautan Angkatan Laut (Lakesla).
"Para penyelam akan menjalani terapi hiperbarik di dalam chamber portable selama kurang lebih 2 jam dengan simulasi tekanan pada kedalaman 18 meter," terang dr. Dony.
Adapun terapi oksigen hiperbarik ini berfungsi melakukan pengerutan gelembung nitrogen sekaligus menyegarkan kembali jaringan tubuh prajurit.
Meski diterpa rintangan yang tergolong berat, kondisi fisik seluruh tim penyelam hingga kini dilaporkan tetap stabil dan dalam pemantauan ketat tim medis Lakesla sesuai SOP keselamatan penyelaman bawah laut.
Penulis : Rian Akhmad
Kalsel
