hallobanua.com, BANJARMASIN — Memasuki hari ke-13 operasi DVI musibah KM Virgo Transport 8 pada Jumat (25/9/2026), Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalsel bersama Pusdokkes Polri mencatatkan perkembangan penting sekaligus menghadapi tantangan teknis di RS Bhayangkara Banjarmasin. Hingga Kamis (24/9/2026) malam tadi, tim DVI berhasil mengidentifikasi 6 jenazah tambahan.
Dengan demikian, dari 42 kantong jenazah yang diterima, sebanyak 20 korban telah resmi teridentifikasi, sementara 22 jenazah sisanya kini dalam pendalaman sampel DNA.
"Hingga Kamis, 24 September 2026, kami telah berhasil mengidentifikasi 6 jenazah tambahan. Dengan demikian, dari total 42 kantong jenazah yang diterima RS Bhayangkara Banjarmasin, sebanyak 20 korban telah resmi teridentifikasi, sementara 22 jenazah lainnya masih dalam proses pendalaman dan identifikasi lanjutan," papar Karo Dokpol Pusdokkes Polri, Brigjen Pol Dr. dr. Sumy Hastry Purwanti, Sp.F., DFM., didampingi DVI Commander Kombes Pol dr. Much Soewan, Sp.OT (K) Spine., MARS.
Adapun daftar 6 korban baru teridentifikasi pada Kamis (24/9/2026) tadi malam yakni:
Deny Dwi Saputra (32 th) Boyolali, Jawa Tengah (Metode: Gigi, Ciri Medis & Properti).
Abdul Fikri (27 th) Purbalingga, Jawa Tengah (Metode: Ciri Medis & Properti).
Tuti (29 th) Kota Banjarmasin, Kalsel (Metode: Gigi & Ciri Medis).
Mashudi (27 th) Jepara, Jawa Tengah (Metode: Sidik Jari, Ciri Medis & Properti).
Feris Sudaryanto (37 th) Lampung Tengah, Lampung (Metode: Ciri Medis & Properti).
Aditya Firmansyah (19 th) Kediri, Jawa Timur (Metode: Ciri Medis & Properti).
Untuk 22 jenazah yang belum teridentifikasi, tim DVI memfokuskan pencocokan sampel DNA serta rekam medis pendukung.
"Dari tim DVI, 22 jenazah yang belum teridentifikasi, kami ambil sampel DNA semua dan memang kami masih terus berusaha mencari semaksimal mungkin, mungkin dari identifikasi primer gigi bisa dicocokkan dengan antemortem dari keluarga dan juga properti atau ciri medis lain," terang Brigjen Pol Sumy Hastry.
"Sehingga kita usahakan mungkin bisa ada yang teridentifikasi, tapi tetap dari 22 tersebut kita ambil sampel DNA semua. 22 totalnya," lanjutnya.
Tantangan utama proses analisis DNA terletak pada kecepatan pengumpulan sampel biologis keluarga inti (orang tua, anak, atau saudara kandung).
"Proses analisis DNA membutuhkan sampel biologis dari jalur keluarga terdekat dan pembandingan DNA paling cepat dan akurat diperoleh dari orang tua kandung, saudara kandung, atau anak kandung korban. Estimasi waktunya karena memang harus dibandingkan data DNA dari antemortem, yaitu yang didapat dari keluarga korban. Itu paling cepat biasanya kalau memang sudah lengkap," tegasnya.
Sejauh ini, tim DVI mencatat antusiasme keluarga korban sangat tinggi dengan total 91 data antemortem yang sudah masuk dan diproses.
"Jadi total itu sudah 91 orang dari antemortemnya," ungkap pihak DVI.
Tim DVI Polda Kalsel memohon doa serta dukungan masyarakat agar seluruh proses penanganan berjalan lancar.
"Kami memohon doa agar seluruh jenazah korban dapat segera ditemukan dan teridentifikasi. Kami juga sangat mengharapkan dukungan serta kerja sama dari semua pihak demi kelancaran pelaksanaan proses identifikasi ini," pungkas Brigjen Pol Sumy Hastry.
Penulis: Rian Akhmad
Kalsel
