hallobanua.com, BANJARMASIN – Potret kesehatan generasi muda di Kota Banjarmasin menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan.
Hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) sepanjang tahun 2025 mengungkapkan bahwa lebih dari separuh siswa yang diperiksa memiliki masalah kesehatan fisik, ditambah temuan awal indikasi gangguan jiwa pada siswa SMA di tahun 2026.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Muhammad Ramadhan, menjelaskan bahwa data CKG tahun 2025 memang baru menyentuh aspek fisik dan belum mencakup aspek psikologis secara luas.
"Data CKG anak sekolah tahun 2025 ini baru skrining kesehatan umum, belum termasuk skrining kesehatan jiwa anak. Gambaran yang kita dapatkan juga memang masih terbatas," ungkap Ramadhan, Selasa (10/02/2026).
Berdasarkan data Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Pokja Kesga, angka siswa yang terindikasi memiliki persoalan kesehatan cukup signifikan. Tercatat capaian skrining pada jenjang SD sebesar 56,9 persen, SMP 56,2 persen, dan SMA 50,4 persen.
"Angka ini menunjukkan masih banyak anak sekolah kita yang membutuhkan perhatian serius terkait kondisi kesehatannya. Utamanya penyakit tidak menular yang mulai muncul di usia dini," ujarnya.
Kekhawatiran ini diperkuat dengan daftar lima penyakit terbanyak yang ditemukan pada pelajar, yaitu aries gigi, anemia, Diabetes Melitus (DM) tipe 2, pra-hipertensi, dan scabies.
Munculnya penyakit seperti diabetes tipe 2 dan pra-hipertensi di usia sekolah menjadi sinyal buruk bagi pola hidup anak-anak saat ini.
Memasuki tahun 2026, Dinkes Banjarmasin mulai melakukan terobosan dengan melakukan skrining kesehatan jiwa meski masih terbatas di tingkat SMA.
Dari 167 siswa yang diperiksa, hasilnya cukup mengejutkan, sementara 70 persen (117 siswa) dinyatakan sehat secara mental, ada 30 persen lainnya yang menunjukkan gejala gangguan.
Temuan ini membuktikan bahwa tantangan kesehatan pelajar tidak lagi hanya sebatas kebersihan fisik, namun sudah merambah ke area mental dan psikologis yang selama ini sering terabaikan.
Menanggapi temuan tersebut, Ramadhan menekankan pentingnya kolaborasi untuk membenahi lingkungan tumbuh kembang anak. Dinkes berkomitmen untuk memperluas jangkauan skrining agar deteksi dini bisa dilakukan lebih komprehensif.
"Kondisi ini menunjukkan pola hidup dan lingkungan anak-anak perlu dibenahi bersama. Anak-anak ini adalah masa depan kota. Kalau sejak sekarang kesehatannya bermasalah, dampaknya bisa panjang. Karena itu, skrining menyeluruh menjadi kebutuhan, bukan pilihan," pungkasnya.
Penulis : rian akhmad
Kota bjm
