Pasukan Kuning di Kota Banjarmasin Tidak Dapat THR Lagi, Ini Penyebabnya


hallobanua.com, BANJARMASIN – Di balik bersihnya sudut-sudut Kota Banjarmasin menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, terselip kisah pilu dari sekitar 1.600 petugas kebersihan. 

Para pahlawan kebersihan yang akrab disapa Pasukan Kuning ini harus menelan pil pahit lantaran dipastikan tidak akan menerima Tunjangan Hari Raya (THR) tahun ini.

Perubahan status kerja menjadi pekerja harian lepas menjadi penyebab utama hilangnya THR bagi para penyapu jalan, pengangkut sampah, hingga sopir truk yang setiap hari berjibaku dengan aroma tidak sedap demi kenyamanan warga.

Sistem baru ini memaksa para petugas bekerja ekstra keras. 

Pasalnya, penghasilan mereka kini murni dihitung berdasarkan kehadiran harian yang harus dibuktikan dengan foto dan laporan kegiatan. 

Dengan upah berkisar antara Rp65.000 hingga Rp90.000 per hari, tidak ada ruang bagi mereka untuk jatuh sakit jika ingin dapur tetap mengepul.

Kepala Bidang Kebersihan dan Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin, Marzuki, menyebutkan bahwa skema penggajian saat ini tidak lagi mengenal tunjangan tambahan.

"Gaji mereka dibayarkan harian sesuai absen dan dokumentasi pekerjaan," kata Marzuki, Selasa (10/03/2026). 
Ia menambahkan bahwa konsekuensi dari sistem ini adalah hilangnya bayaran jika petugas tidak turun ke lapangan. 
"Pekerja yang tidak masuk kerja otomatis tidak mendapatkan bayaran pada hari tersebut," tuturnya.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Pasukan Kuning pada medio dua tahun silam. 
Meski secara administratif tidak disebut THR, pemerintah kota kala itu masih memberikan tambahan pendapatan yang nilainya cukup membantu kebutuhan hari raya.

"Waktu itu memang tidak disebut THR, tapi dimasukkan ke dalam gaji. Kalau gaji Rp1,5 juta, tambahan menjelang Lebaran juga sekitar itu," jelas Marzuki.

Hilangnya tunjangan ini menjadi ironi, mengingat beban kerja mereka justru biasanya meningkat drastis saat malam takbiran dan hari pelaksanaan salat Id karena volume sampah yang membeludak. 

Kini, dengan pola pembayaran harian, impian untuk merayakan Lebaran dengan sedikit kelonggaran ekonomi harus terkubur dalam-dalam.

Penulis : rian akhmad
Kota bjm
Baca Juga

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
Hallobanua

Follow Instagram Kami Juga Ya