hallobanua.com, BANJARMASIN – Pembangunan pintu air yang merupakan bagian dari program National Urban Flood Resilience Project (Nufrep) oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III di kawasan Jalan Pierre Tendean, mulai berdampak pada fasilitas publik.
Salah satu fasilitas olahraga milik Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Banjarmasin, yakni lapangan basket yang berada di dekat Patung Bekantan, terpaksa harus digunakan sebagian untuk menunjang proyek tersebut.
Kepala Disbudporapar Kota Banjarmasin, Ibnu Sabil, membenarkan hal tersebut. Ia menjelaskan bahwa penggunaan area lapangan ini dilakukan berdasarkan surat resmi dari BWS yang ditujukan kepada Wali Kota Banjarmasin serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).
"Memang di surat tersebut ada pemanfaatan penggunaan salah satu lapangan basket, dan itu separuh lapangan basket yang digunakan untuk menaruh tiang-tiang atau alat berat.
Karena situasinya menggunakan crane, di situ tidak ada space (ruang) lain untuk menaruh material berat tersebut," ujar Ibnu Sabil Minggu (31/05/2026).
Guna mengantisipasi dampak dari aktivitas alat berat tersebut, Disbudporapar terus melakukan pengawasan ketat dan melaporkan perkembangannya kepada pimpinan daerah.
Ibnu Sabil menegaskan telah ada komitmen bahwa seluruh fasilitas yang terdampak akan diperbaiki total setelah proyek selesai.
"Berdasarkan surat tersebut, kami melakukan pengawasan dan pelaporan ke pimpinan bagaimana jika ada kerusakan dan sebagainya di setengah lapangan basket yang digunakan oleh pihak konstruktor. Nanti setelah selesai pekerjaan, pihak BWS dan konstruktor bersama PUPR tentunya akan memperbaiki kembali seperti semula," tegasnya.
Pengembalian fungsi lapangan secara utuh dinilai sangat krusial karena fasilitas tersebut aktif digunakan oleh para atlet maupun masyarakat umum untuk berolahraga.
Meskipun pihak konstruktor hanya memakai separuh area dari salah satu lapangan, Disbudporapar mengambil kebijakan tegas untuk melarang total aktivitas olahraga di lapangan terdampak demi faktor keselamatan.
"Satu lapangan tersebut separuhnya dimanfaatkan (proyek), namun separuhnya lagi tidak saya izinkan untuk digunakan oleh pemain. Takutnya nanti kalau terjadi apa-apa, risikonya sangat besar bagi pemain.
Sementara untuk lapangan yang satunya lagi (di lokasi yang sama) tetap bisa digunakan," jelas Sabil.
Di balik imbas pembangunan ini, Sabil melihat adanya peluang besar untuk melakukan penataan ulang (revitalisasi) total di kawasan ikonik tersebut setelah proyek pintu air rampung.
Kawasan Pierre Tendean akan disulap menjadi pusat integrasi antara wisata dan olahraga yang lebih modern.
Beberapa rencana penataan ulang yang akan segera dieksekusi Disbudporapar antara lain yakni melakukan peremajaan estetika pada ikon wisata Patung Bekantan.
Kemudian melakukan revitalisasi khusus pada sistem mesin penggerak air mancur Patung Bekantan, serta mengubah sistem siklus pancuran air menjadi otomatis dengan jadwal yang pasti.
"Kita menginginkan nanti mesinnya secara otomatis berjalan, sehingga masyarakat dan wisatawan sudah tahu di jam-jam berapa saja air itu akan memancar, termasuk bagaimana pengaturan pancurannya," pungkas Sabil.
Penulis : rian akhmad
Kota bjm
Tags
Pemko Banjarmasin
