hallobanua.com, BANJARMASIN — Genap berusia satu dekade (2016–2026), Forum Sineas Banua (FSB) memperingati perjalanan 10 tahunnya, dengan mendeklarasikan wadah baru yang dinilai lebih kokoh secara kelembagaan, yakni Yayasan Ruang Sinema Banua.
Langkah ini diambil untuk memperkuat posisi administratif dan formalitas gerakan sinema lokal, sementara FSB tetap berjalan sebagai ruang komunitas yang lebih cair dan fleksibel.
Dalam perayaan 10 tahun ini, para penggerak FSB menyampaikan sejumlah poin penting, tantangan, serta program strategis demi memajukan perfilman di Kalimantan Selatan.
Ketua FSB, Munir, mengungkapkan bahwa dinamika pergantian kepala daerah di tingkat kota maupun provinsi selama 10 tahun terakhir turut memengaruhi komitmen kerja sama di bidang perfilman.
Meski sering diajak menjadi mitra, penyelenggara, hingga konsultan, FSB berkomitmen untuk terus menjaga api gerakan secara swadaya.
"Saya berharap 10 tahun ini menjadi pembuktian bahwa ruang-ruang seperti ini masih ada dan terjaga di luar bentuk formalnya. Harapannya bukan sekadar sampai ke 20 tahun, tetapi bagaimana merancang langkah hingga 100 tahun ke depan," ujar Munir.
Mengenai kualitas SDM, Munir menilai kualifikasi sineas Kalsel untuk tingkat dasar hingga menengah sudah sangat menguasai.
Terkait keterlibatan tenaga ahli dari luar daerah, ia menganggap hal itu wajar selama bertujuan untuk menutupi tingkatan kompetensi tertentu yang belum terpenuhi, sembari terus mendorong kesetaraan kualitas sineas lokal.
Meski produksi film lokal Kalsel mulai dari film pendek hingga film panjang biosko mengalami perkembangan pesat, ekosistem perfilman Kalsel dinilai masih memiliki satu mata rantai yang belum terpenuhi, yaitu distribusi.
Guna menjawab tantangan tersebut, Pembina FSB, Adi Hidayat mengatakan, pihaknya telah merancang dua program utama untuk masa depan perfilman Kalsel.
Pertama, menghadirkan bioskop mandiri. Keberadaan bioskop mandiri di Kalsel sangat dibutuhkan sebagai ruang stimulasi bagi karya-karya dari sekitar 64 komunitas film yang ada di Kalimantan Selatan.
Kedua yakni, peluncuran Bimbingan Belajar (Bimbel) Perfilman. Mulai tahun depan, Yayasan Ruang Sinema Banua berencana membuka bimbingan belajar (bimbel) khusus bidang perfilman untuk mengasah skill kawan-kawan komunitas.
Terakhir, pihaknya menegaskan pentingnya kemandirian agar komunitas tidak bergantung pada pemerintah daerah. Namun, pintu kolaborasi bersama dengan pemerintah daerah terus dibuka.
"Tentu ketika pemerintah ingin berkolaborasi, kami sambut dengan baik. Salah satunya seperti program pembiayaan film pendek 'Banua Film Fund' bersama Dinas Pariwisata serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan," tutup Adi.
Penulis : rian akhmad
Kalsel
