hallobanua.com, BANJARMASIN — Amuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kepulan asap pekat yang menyelimuti kawasan sekitar Banjarmasin tak hanya menghimpit napas manusia, tetapi juga merenggut ruang hidup satwa liar.
Ketakutan itu tampak nyata saat seekor trenggiling berukuran raksasa nekat keluar dari rerimbunan semak dan menyeberang jalan permukiman warga di Terantang, Kelurahan Sungai Andai, Banjarmasin Utara, Kamis (29/10/2026) malam.
Mamalia bersisik yang tergolong langka dan dilindungi undang-undang tersebut ditemukan secara tak sengaja oleh Tim Relawan Posko Lapangan 02 Karhutla dan Kabut Asap sekitar pukul 22.00 Wita, saat mereka tengah menyisir kawasan sekitar posko dalam patroli rutin.
Anggota Tim Relawan, Hasbi, mengenang detik-detik menegangkan saat kendaraan mereka hampir menghantam satwa malang yang tiba-tiba muncul dari balik kegelapan malam.
"Trenggilingnya itu tiba-tiba menyeberang dan hampir kita tabrak. Alhamdulillah tidak kena, langsung kita tangkap dan kita amankan di posko," ungkap Hasbi, Jumat (30/10/2026).
Satwa nocturnal berbobot jumb, diperkirakan sepanjang satu meter dengan berat melebihi 10 kilogram, tersebut diduga kuat terus terdesak oleh sengatan panas api dan pekatnya asap karhutla yang merusak habitat aslinya.
Meski beruntung tak menderita luka fisik, perjalanan panjang trenggiling dewasa ini hingga masuk ke pemukiman warga menjadi potret pilu terancamnya keanekaragaman hayati akibat karhutla.
"Kita temukan itu sehat, tidak ada luka-luka. Trenggiling yang kita temukan ini sudah dewasa karena kita melihat dari berat badannya sudah 10 kilogram lebih," jelasnya.
Bagi para relawan yang saban hari bergelut dengan asap dan kobaran api di lapangan, penemuan trenggiling ini menjadi momen langka sekaligus menyadarkan bahwa ada nyawa satwa liar yang juga tengah berjuang menyelamatkan diri.
"Kita baru kali ini menemukan trenggiling. Mungkin ini dampak dari karhutla," tutur Hasbi dengan nada prihatin.
Guna menyelamatkan mamalia langka ini dari potensi bahaya lain, tim relawan dengan sigap memberikan perlindungan sementara di markas posko sambil berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan agar satwa tersebut dapat segera dievakuasi ke habitat yang aman.
"Sementara ini kita amankan di posko kita dulu, lalu tim BKSDA akan segera melakukan penjemputan," pungkasnya.
Penulis : Rian Akhmad
Kota bjm
