​Launching CoE di Bali Disorot, Komisi II DPRD Banjarmasin Tekankan Efisiensi dan Dampak Nyata

​hallobanua.com, BANJARMASIN – Langkah Pemerintah Kota Banjarmasin menggelar peluncuran Calendar of Event (CoE) 2026 di Bali mendapat tanggapan serius dari jajaran legislatif. 

Komisi II DPRD Kota Banjarmasin menekankan bahwa di tengah kebijakan efisiensi anggaran, setiap kegiatan promosi luar daerah harus memiliki indikator keberhasilan yang jelas dan terukur.

​Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Banjarmasin dari Fraksi PKS, Hendra, menyatakan bahwa pihaknya pada dasarnya tidak mempersoalkan upaya promosi daerah. 

Namun, ia menggarisbawahi pentingnya prinsip urgensi dalam penggunaan APBD.
"Komisi II tidak mempersoalkan promosi daerah, tetapi di tengah efisiensi anggaran, setiap kegiatan harus berbasis urgensi, efisiensi, dan manfaat yang terukur. KPI (Key Performance Indicator) nya harus jelas, indikatornya harus tepat," ujar Hendra dalam keterangan resminya, Senin (09/02/2026).

​Hendra menegaskan bahwa peluncuran CoE di luar daerah perlu dijelaskan secara terbuka kepada publik maupun legislatif. 

Menurutnya, jangan sampai kegiatan tersebut hanya menjadi seremonial tanpa hasil yang konkret bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD).

​"Apa targetnya, apa indikator keberhasilannya, dan apa dampaknya langsung bagi ekonomi dan PAD Kota Banjarmasin? Itu yang akan kami dalami dalam fungsi pengawasan," tegasnya.

​Ia menyayangkan jika agenda ke luar daerah hanya berhenti pada proses launching semata. 

Hendra berharap pemerintah kota mampu melakukan langkah eksekusi yang lebih jauh untuk memastikan wisatawan benar-benar datang ke Kota Seribu Sungai.

​Lebih lanjut, Hendra menyarankan agar Banjarmasin memiliki "Event Unggulan" yang memiliki daya tarik kuat secara nasional maupun internasional. Ia mencontohkan tradisi budaya yang unik sebagai magnet utama.

​"Banjarmasin harus punya Event Unggulan yang bisa maksimal menarik wisatawan. Misalnya event budaya Baayun Mulud. Ini pasti disukai oleh wisatawan yang suka nuansa heritage," tambahnya.

​Komisi II mendorong adanya kolaborasi teknis dengan pelaku usaha pariwisata. Promosi dinilai tidak akan efektif jika tidak disertai kemudahan akses bagi calon pengunjung.

​"Kami berharap, selain launching, kita harus memikirkan bagaimana ada upaya integrasi, Business to Business dengan Travel Agent misalnya. Wisatawan asing tidak ingin hanya dapat informasi saja, tapi bisa tahu step by step mendapatkan itinerary sampai tereksekusi menjadi kunjungan nyata ke Banjarmasin," pungkas Hendra.

Penulis : rian akhmad
Kota Bjm
Baca Juga

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
Hallobanua

Follow Instagram Kami Juga Ya